IE6 Countdown

10 years ago a
browser was born.

Its name was Internet Explorer 6. Now that we’re in 2011, in an era of modern web standards, it’s time to say goodbye.

Yup, browser yang digunakan oleh sebagian besar orang [pengguna Microsoft Windows khususnya] merupakan browser yang saat ini dinilai sudah ketinggalan jaman oleh produsennya sendiri, Microsoft.

Secara resmi pihak Microsoft mempublikasikan sebuah website yang dimaksudkan sebagai kampanye “IE6 Countdown”. Melalui website tersebut kita bisa memonitor penggunaan IE6 di seluruh dunia yang diharapkan persentasenya dapat mencapai kurang dari 1%. Saat saya menulis ini baru mencapai 12%.

Kenapa IE6 harus ditinggalkan? hmm celana dalem yang kita pake sekarang aja bukan celana dalem yang udah berumur 10 tahun bukan? hehehe

Saya sendiri sering bermasalah dengan IE6, yang terakhir adalah ketika saya menampilkan ini di browser Mozilla Firefox 3.6.13 :

 

di Firefox 3.6.13

sekalian iklan ahhh :P

Ya, nampak normal dan sesuai keinginan saya. Tapi ketika saya coba akses melalui IE6, tampilannya seperti ini :

 

di IE6

di IE6

Huhuhu tampilannya berantakan, rusak yang seharusnya muncul di tengah-tengah halaman browser eh ini malah ada di pojok kiri atas.

Itulah salah satu contoh kendala dalam pemakaian IE6. Padahal pada kasus di atas saya hanya menggunakan CSS yang sederhana.

Tentunya masih banyak isu-isu lain yang mendukung kampanye untuk meninggalkan IE6. Tabel berikut menjelaskan perbandingan IE6 dengan versi lainnya [IE7 dan IE8] : Continue reading

Receptionist Duties

Suatu malam di sebuah tempat karaoke keluarga.

Saya : mbak..ada room kosong?
Mbak Resepsionis : saat ini sedang penuh semua mas.tinggal yg large.tapi kalo mau nunggu 10 menit lagi ada yang medium
Saya : Ok mbak! saya tunggu 10 menit aja, sekalian nunggu temen.
Mbak Resepsionis : OK..atas nama siapa?
Saya : JUN
Mbak Resepsionis : baik.silahkan duduk dulu mas.. *sambil nulis JUS di kertas
Saya : *jalan ke tempat duduk sambil ngiler pengen JUS Jambu

Lombok Selatan

Tujuan terakhir kita sewaktu jalan-jalan di Lombok adalah ke bagian selatan pulau. Disana terdapat pantai yang namanya sama seperti salah satu pantai di Bali, pantai Kuta.

Masih dengan berkonvoi menggunakan sepeda motor kita melaju ke arah selatan pulau selama kurang lebih 1,5 jam. Oh iya, sebelum ke pantai Kuta kita sempat mampir ke sentra kerajinan mutiara di daerah Sekarbela, Mataram. Perjalanan ke arah selatan pulau melewati tempat pembangunan bandara internasional Lombok. Semakin ke selatan kita mulai waspada, karena dikabarkan di daerah selatan rawan terjadi kasus bajing loncat. Mengingat jalannya yang memang cukup sepi dan jauh dari pemukiman penduduk. Tapi syukurlah kita selamat sampai tujuan, mungkin bajing loncatnya waktu itu masih tidur.heheh

Sesampainya di Kuta yang pertama kita cari adalah tempat makan karena perut sudah keroncongan. Hmm sangat disayangkan tempat makan disana sangat jarang. Kita pun makan di tempat makan yang seadanya dan pesanan kita cukup lama sekali datangnya. Tapi sedikit terobati setelah duduk-duduk di pasir pantai Kuta yang indah. Pasirnya berbentuk butiran yang lebih besar dari pasir pantai biasanya. Dikenal dengan nama pasir merica karena memang bentuknya seperti merica. Pasir merica biasa digunakan pada hiasan furnitur meja kaca.

Setelah puas main merica, kita berjalan ke arah timur pantai Kuta dan sampai di Tanjung An.

Sorenya kita kembali ke rumah Nana dan beristirahat sebentar lalu mencari makan malam. Kembali menu ayam taliwang menjadi pilihan makan malam kita. Waktu itu saya makan ayam bakar madu dan wow lezatnyaaa..harus dicoba lagi kalau main kesana.

Rencana kembali ke Bali malam itu harus terlebih dahulu ada yang rela mengecek ke pelabuhan Lembar, apakah sudah dibuka dan ada kapal di penyeberangan. Terima kasih kepada saudara Liwan dan saudari Iik yang sudah rela bolak balik mengecek ke pelabuhan. Kebaikan kalian pasti dibalas Tuhan.

Sempat saya bingung karena kebetulan hmm bukan kebetulan tapi tiba-tiba “dia” sakit pas waktunya ke pelabuhan, kecapekan sepertinya. Syukurlah dengan agak dipaksakan “dia” kuat dan bersyukur lagi kita naik kapal yang lumayan bagus. Kapal baru dan tempat tidur yang cukup nyaman. Sepanjang perjalanan di kapal “dia” tidur. Tepat saat matahari terbit “dia” bangun dan kapal merapat di pelabuhan Padang Bai. Sampailah kita di pulau Dewata dan berakhirla cerita Nyepi saya.

Jadi, taun lalu saya belum merasakan seperti apa suasana Nyepi di Bali. Taun ini saya akan merasakannya, diem-dieman, tidak ada aktifitas, tidak ada pelayanan umum kecuali rumah sakit, tidak boleh menyalakan lampu, hmm kita lihat saja nanti.