Kerja di Bali tuh banyak liburnya menurut saya. Jadi tidak ada salahnya saya menerapkan pengertian ini, Bali = Banyak Libur.
Kenapa? karena masyarakat Bali mayoritas beragama Hindu yang memiliki banyak sekali hari-hari raya, perayaan maupun upacara. Hari raya Nyepi salah satunya yang merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun baru Saka. Tidak seperti perayaan tahun baru pada umumnya yang biasanya diramaikan dengan pesta kembang api, memborong kondom [lho?], konvoi kendaraan ataupun pesta lainnya. Tahun baru Saka umat Hindu ini justru dirayakan dengan nyepi [berasal dari kata sepi] yang artinya semua aktifitas ditiadakan, tidak ada kegiatan seperti biasanya.
Saya juga libur tentunya dan kebingungan. Tidak ada yang boleh menyala, tidak ada pelayanan umum, bandara ditutup, pelabuhan tidak beroperasi bahkan lampu kamarpun tidak boleh dihidupkan. Bingung bukan? Oleh karena itu lah kita [yang tidak ikut merayakan] ramai-ramai melarikan diri dari pulau Bali dan kabur ke pulau seberang. Lombok.
Dua hari sebelum Nyepi sejumlah 13 orang [termasuk saya] dengan menaiki sepeda motor kita menyeberangi selat Lombok. Ya, naik motor. Seru dan menyenangkan sekali pastinya. hehehe
Perjalanan darat ditempuh dari Denpasar menuju pelabuhan penyeberangan Padang Bai selama 1,5 jam. Dilanjutkan dengan menaiki kapal Ferry selama kurang lebih 4-5 jam. Tujuan utama kita adalah pulau 3 Gili [Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air] yang terdapat di sebelah utara pulau Lombok.
Dengan semangat ’45 dan ala bakcpacker kita menuju Lombok. Hampir sampai kita di pelabuhan Lembar, Lombok. Di atas kapal saya pun baru tahu malam itu kalau ternyata kita akan menginap di Mataram tapi belum tahu mau menginap dimana, yang pada akhirnya nyasar ke rumah teman saya [padahal dia posisi di Bandung]. Jangan bingung dulu. Melalui ponsel, teman saya [sebut saja Nana] berkata “jangankan 13 orang buat 30 orang juga cukup kok rumahku jun”. Antara percaya dan tidak, itu rumah apa lapangan?
Setelah cukup lama kita mencari alamat rumah Nana di daerah Rembiga dengan perut lapar akhirnya kita sampai juga. Hanya ada 2 orang penjaga rumah dan kita langsung disambut dengan hangat [disiram air panas kali ya? anget]. Diantar lah kita ke belakang rumah. Waaah ternyata bukan lapangan tapi memang rumah transit yang berbentuk rumah panggung, terdiri dari beberapa kamar dan ada kolam ikannya. Penjaga rumahnya baik banget pula. hehehe
Malam itu, sebelum istirahat kita pamit keluar mencari makanan, apalagi kalau bukan ayam taliwang lengkap dengan pelecing kangkungnya. Slurrppp..
Besok paginya masih di rumah Nana, kita menitipkan barang-barang yang tidak perlu seperti celana dalam kotor dan teman-temannya. hahaha dan memulai perjalanan ke Gili Trawangan melewati jalur pantai Senggigi yang empat jempol deh buat pemandangan indahnya. Melewati Senggigi kita mampir sebentar untuk sarapan pagi di nasi padang. Ya, di Lombok makan nasi padang. Setelah nasi padang kita mampir lagi di toserba pinggir jalan untuk memborong perbekalan agar dapat bertahan hidup di Gili.
Sepanjang perjalanan dari Senggigi menuju Gili mata kita dimanjakan dengan keindahan alam yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Jalan aspal halus di tepian pantai, kadang melewati pohon-pohon yang rimbun seperti masuk hutan yang sejuk, berkelok dan naik turun ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam.
Sesampainya di pelabuhan penyeberangan Bangsal kita menitipkan sepeda motor di tempat penitipan kendaraan yang banyak terdapat disana. Karena kita tidak diperbolehkan menyeberang ke Gili Trawangan dengan naik sepeda motor. Memangnya ada yang bisa naik sepeda motor di laut? Tentu bukan itu alasannya, tapi karena di Gili Trawangan tidak boleh ada asap kendaraan. Jadi sudah dipastikan disana terbebas dari polusi asap dan suara. Alat transportasi disana hanya ada sepeda dan cidomo [sejenis kereta kuda tapi pake kedelai eh keledai]. Wow menarik bukan?
Untuk menyeberang dari Bangsal ke Gili Trawangan kita menaiki perahu motor dan tidak lama, hanya sekitar 30 menit saja.
Hmm sekian dulu cerita saya tentang Hari Raya Nyepi yang malah jadi bercerita tentang Lombok dan Gili. Akan saya sambung lagi ceritanya di postingan berikutnya. hehe



whoaa, it’s a really great view and adventure.. kemaren jg pernah berencana ke lombok pas taon baruan. tp yg mau diajak malah ga bisa. hiks.. hiks..
udah 3 biji postingannya yah..
btw, kalo mampir ke blog saya jgn silent dunk.. give ur comment to feed my blog
@mut : yup.bikin ketagihan ke gili tuh.di cerita berikutnya deh semoga bisa lebih seru.
wajib kesana lho..apalagi kalau suka snorkling.
hehe iya ntar pas mampir bilang-bilang deh
Mas Jun…ini terlihat bagus….
enak dipandang mata…warnanya sejuk…
good choise..
@aladin : emang asli aladin namanya? punya lampu ajaib gak?
iya nih biar sesuai sama tempat tinggal sekarang..pantai.hehe
btw blog km jg bagus kok..
hahaha..sebanarnya pas perknalan kemarin, ada yang pengen saya bilang…
Ehm, Nama saya Aladin yang tak berjin dan tidak ad hubungannya dengan Ali Baba ataupun Lady Gaga…preettt….wkwkwkwkw
Baydeway, makasih sanjungannya…jadi terharu pengan nelan blog aku sendiri. Lho…!!!
Pingback: Gili Trawangan | juniawanarif