Gili Trawangan

 

RCTI Okeee

RCTI Okeee

Kali ini akan saya lanjutkan cerita tentang Nyepi di Bali dan kabur ke Gili Trawangan yang merupakan kelanjutan dari cerita ini. Eh tapi sebelumnya ada sedikit info nggak penting nih, hmm saya sekarang lagi berada di sebuah kantor di daerah pegunungan Baturiti, Tabanan [kantor kok di gunung?]. Bagi saya yang sudah mulai terbiasa merasakan panas teriknya Denpasar, ini merupakan sesuatu yang tidak biasa. Hawa sejuknya, suara burungnya, air dinginnya brrr bikin ngantuk deh. Baturiti yang dingin ini berjarak kurang lebih 10 menit dari danau wisata Bedugul.

Lanjut cerita Gili deh sambil makan kacang. Krauk krauk krauk..

Jadi, setelah dihempas ombak naik perahu motor selama 30 menit akhirnya saya dan rombongan sampai di pulau yang cantik banget. Gili Trawangan. Mendekati bibir pantai saya sangat takjub dengan biru beningnya air laut yang seakan-akan dapat disentuh dasar lautnya, padahal masih cukup dalam. Pasir putih lembut kontras dengan warna air laut, luar biasa indah memang. Perahu motor pun menepi, mesin dimatikan dan.. JLEBB saya menginjakkan kaki di pulau itu untuk pertama kalinya. Ada perasaan gembira, bangga, haru dan juga..pipis duluuu ah [dingin banget deh di Baturiti..beser deh saya] eh??

Ternyata untuk masuk ke Gili Trawangan kita terlebih dahulu harus menyelesaikan urusan administrasi di pos masuk dekat penyeberangan.  Saya kurang tau apa saja yang diurus waktu itu, soalnya teman saya yang mengurus dan saya menunggu di sebuah gubug. Setelah itu kita berjalan kaki ke penginapan. Cukup banyak penginapan disana mulai dari penginapan sederhana yang murah sampai dengan private villa. Saya dan teman-teman tentu memilih yang private, tetanggaan sama bule-bule, satu kamar diisi empat orang, masuk gang dan listriknya mati. Private? Continue reading

Nyepi

Kerja di Bali tuh banyak liburnya menurut saya. Jadi tidak ada salahnya saya menerapkan pengertian ini, Bali = Banyak Libur.

Kenapa? karena masyarakat Bali mayoritas beragama Hindu yang memiliki banyak sekali hari-hari raya, perayaan maupun upacara. Hari raya Nyepi salah satunya yang merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun baru Saka. Tidak seperti perayaan tahun baru pada umumnya yang biasanya diramaikan dengan pesta kembang api, memborong kondom [lho?], konvoi kendaraan ataupun pesta lainnya. Tahun baru Saka umat Hindu ini justru dirayakan dengan nyepi [berasal dari kata sepi] yang artinya semua aktifitas ditiadakan, tidak ada kegiatan seperti biasanya.

Saya juga libur tentunya dan kebingungan. Tidak ada yang boleh menyala, tidak ada pelayanan umum, bandara ditutup, pelabuhan tidak beroperasi bahkan lampu kamarpun tidak boleh dihidupkan. Bingung bukan? Oleh karena itu lah kita [yang tidak ikut merayakan] ramai-ramai melarikan diri dari pulau Bali dan kabur ke pulau seberang. Lombok.

Dua hari sebelum Nyepi sejumlah 13 orang [termasuk saya] dengan menaiki sepeda motor kita menyeberangi selat Lombok. Ya, naik motor. Seru dan menyenangkan sekali pastinya. hehehe

Inilah ke 12 orang-orangan itu

Inilah ke 12 orang-orangan itu, yang 1 kan lagi pegang kamera

Perjalanan darat ditempuh dari Denpasar menuju pelabuhan penyeberangan Padang Bai selama 1,5 jam. Dilanjutkan dengan menaiki kapal Ferry selama kurang lebih 4-5 jam. Tujuan utama kita adalah pulau 3 Gili [Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air] yang terdapat di sebelah utara pulau Lombok.

Dengan semangat ’45 dan ala bakcpacker kita menuju Lombok. Hampir sampai kita di pelabuhan Lembar, Lombok. Di atas kapal saya pun baru tahu malam itu kalau ternyata kita akan menginap di Mataram tapi belum tahu mau menginap dimana, yang pada akhirnya nyasar ke rumah teman saya [padahal dia posisi di Bandung].  Jangan bingung dulu. Melalui ponsel, teman saya [sebut saja Nana] berkata “jangankan 13 orang buat 30 orang juga cukup kok rumahku jun”. Antara percaya dan tidak, itu rumah apa lapangan?

Setelah cukup lama kita mencari alamat rumah Nana di daerah Rembiga dengan perut lapar akhirnya kita sampai juga. Hanya ada 2 orang penjaga rumah dan kita langsung disambut dengan hangat [disiram air panas kali ya? anget]. Diantar lah kita ke belakang rumah. Waaah ternyata bukan lapangan tapi memang rumah transit yang berbentuk rumah panggung, terdiri dari beberapa kamar dan ada kolam ikannya. Penjaga rumahnya baik banget pula. hehehe

Malam itu, sebelum istirahat kita pamit keluar mencari makanan, apalagi kalau bukan ayam taliwang lengkap dengan pelecing kangkungnya. Slurrppp..

Besok paginya masih di rumah Nana, kita menitipkan barang-barang yang tidak perlu seperti celana dalam kotor dan teman-temannya. hahaha dan memulai perjalanan ke Gili Trawangan melewati jalur pantai Senggigi yang empat jempol deh buat pemandangan indahnya. Melewati Senggigi kita mampir sebentar untuk sarapan pagi di nasi padang. Ya, di Lombok makan nasi padang. Setelah nasi padang kita mampir lagi di toserba pinggir jalan untuk memborong perbekalan agar dapat bertahan hidup di Gili.

Jalur Senggigi - 3 Gili

Jalur Senggigi - Gili

Sepanjang perjalanan dari Senggigi menuju Gili mata kita dimanjakan dengan keindahan alam yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Jalan aspal halus di tepian pantai, kadang melewati pohon-pohon yang rimbun seperti masuk hutan yang sejuk, berkelok dan naik turun ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam.

Sesampainya di pelabuhan penyeberangan Bangsal kita menitipkan sepeda motor di tempat penitipan kendaraan yang banyak terdapat disana. Karena kita tidak diperbolehkan menyeberang ke Gili Trawangan dengan naik sepeda motor. Memangnya ada yang bisa naik sepeda motor di laut? Tentu bukan itu alasannya, tapi karena di Gili Trawangan tidak boleh ada asap kendaraan. Jadi sudah dipastikan disana terbebas dari polusi asap dan suara. Alat transportasi disana hanya ada sepeda dan cidomo [sejenis kereta kuda tapi pake kedelai eh keledai]. Wow menarik bukan?

Untuk menyeberang dari Bangsal ke Gili Trawangan kita menaiki perahu motor dan tidak lama, hanya sekitar 30 menit saja.

Beberapa detik sebelum menyentuh Gili Trawangan

Beberapa detik sebelum menyentuh Gili Trawangan

Hmm sekian dulu cerita saya tentang Hari Raya Nyepi yang malah jadi bercerita tentang Lombok dan Gili. Akan saya sambung lagi ceritanya di postingan berikutnya. hehe

Hijrah ke Bali

Bali..hmm siapa yang tak kenal Bali?

Bali sunset

Bali sunset

Sebuah pulau yang merupakan tujuan wisata nomor wahid di nusantara dan dikenal mancanegara. Pulau yang menyajikan alam yang indah, seni dan budaya yang eksotis, penduduk yang ramah, dan makanan yang hmm menggoda lidah. Ya, Bali memang selalu indah.

Saat study tour kelas 3 SMA atau sekitar 9 taun yang lalu [wow sudah lama juga ternyata ya] adalah pertama kalinya saya mengunjungi Bali. Hanya beberapa hari saja waktu itu, tapi sesampainya di rumah entah kenapa dalam hati berkata “dalam waktu dekat pasti saya akan ke Bali lagi”. Eh ternyata bener juga, saya ke Bali lagi pertengahan taun 2009 [7 taun setelah kunjungan pertama saya]. Hahaha..dalam waktu dekat dari Hongkong!

Tapi dari kunjungan kedua itu, saya langsung jatuh cinta. Bukan hanya jatuh cinta dengan pulau Bali nya itu sendiri, tapi juga dengan seseorang [skip]. hihihi

Sayapun liburan di Bali sejak saat itu sampai sekarang. Eh! hmm maksud saya, Alhamdulillah saya dapat pekerjaan disini [baca : Bali] sejak awal taun 2010. Jadi saya sekarang kerja disini sambil liburan meninggalkan pekerjaan lama saya di Bandung dan kampung halaman saya Tekgal (pake K).

Oleh karena itu, jangan kaget kalau blog ini akan penuh dengan cerita tentang Bali. hehe.. sing kenken nah? [gpp ya? - balinese]

It’s good to be back

“We live in the shadows and we had the chance and threw it away
And it’s never gonna be the same
Cos the years are falling by like the rain
And it’s never gonna be the same
‘Til the life I knew comes to my house and says
Hello!
Hello! Says it’s good to be back, good to be back!
Hello!”

Hello – Maroon 5

Yap..Hello world, hello semuaaa.. Senangnya saya kembali lagi ke rumah [baca : blog]. Entah udah berapa banyak account blog yang pernah saya buat dan berapa taun saya gak nulis..heheheh

Ok..dengan ini saya nyatakan blog ini dibuka, terima kasih dan silahkan diambil manfaatnya [kalau ada] dan dipergunakan sebagaimana mestinya. Lho?